Dunia Medula
Uh... rasanya kepalaku ini pusing. Aku sudah tak tahan lagi. Pecahkan saja kepalanya biar ramai. Kata – kata itu terus menggangguku. Aku tak bisa menahannya. Sekarang seolah – olah kata – kata itu adalah komando dari seorang jendral yang diktator. Jika tidak dituruti maka hilanglah nyawa. Aku mulai mencari apapun yang bisa kugunakan untuk memecahkan kepalaku ini. Palu, tak mempan, botol – tak mempan, batu bata – tak mempan, dan tampaknya seluruh perabot rumah telah kupakai untuk memecahkan kepalaku. Hinga tersisa linggis. Duk. Oh tampaknya aku mulai merasa tenang.... tenang... dan tenang. Aku sudah tak bisa menahan rasa untuk menutup mataku ini dan aku terjatuh. Entah dimana.
Tiba – tiba aku tersadar. Tampaknya disebuah kamar. Aku tidur di tempat tidur serba putih. Ranjangnya, kasurnya, bantalnya, selimutnya dan lain – lain semua serba putih. Aku masih merebahkan diri di tempat tiduryang serba putih ini. Dan memandang ke atas. Nampaknya kamar ini tak memiliki langit – langit. Aku seolah – olah terbaring di sebuah gedung yang tinggi. Langit – langit yang kupandang sangatlah tinggi hingga menembus batas cakrawala.
Aku terbelalak kaget ketika aku melihat ikan Manta ray raksasa yang melayang bagaikan kelelawar melesat kesana kemari seolah – olah sedang menari akrobatik. Menukik dan meluncur ke arahku aku ingin menghindar. Teatapi ikan manta itu sangat cepat seperti pesawat jet yang hendak bunuh diri menabrakan diri ke arahku.
Aku hanya bisa menutup mata dan kubuka lagi kedua katup mataku ini. Ikan manta itu menukik ke arah lain. Pergi ke suatu tempat. Dan aku tidak melihat ikan pari manta saja yang melayang aneh. Aku melihat seekor kura – kura, paus dan lumba- lumba melintas. Dan ada PENYELAM! Lengkap dengan tabung gas dan pakaian renang. “HEI PAAAAK!!! Taukah kau dimana aku ini?????” aku berteriak ke arahnya. Lalu ia mendekat ke arahku. Dan melihatku seolah aku hanyalah hewan Coelonterata yang unik. Mungkin aku disangka seekor Ubur –ubur. Atau Physalia peligica atau semacamnya yang nampak aneh baginya.
Ma’af bolehkah aku bertanya dimana aku ini?” aku mengulang pertanyaanku dengan nada yang pelan dan tidak berteriak. Nampaknya penyelam itu hanya melihatku sebagai makhluk yang lebih aneh dari ubur –ubur. Dan ia pergi begitu saja. Seolah olah menganggapku tidak aneh, dan mencari ubur- ubur yang lebih aneh.
Lalu kulihat sebuah bayangan besar yang tampak seperti awan mendung menutupi sinar matahari. Kepalaku mengadah ke atas tepat 90o, tak percya memandang peristiwa yang aneh dan ajaib ini, sebuah kapal layar yang besar sekali. Seperti yang ada di film – film bajak laut. Gagah sekakli. Megah. Dengan meriam – meriam besar di sisi – sisinya, dan kulihat layar membentang tampak siap mewadahi angkasa.
Krek krek.... jangkar raksasa turun tepat di depan mataku. Tepat satu sentimeter di ujung jari kakiku. Aku masih terkagum – kagum melihat jangkar yang luar biasa besarnya. Lalu terdengar bunyi krek ... krek... lagi. Dan aku menaiknya karena siapa tahu di kapal sana ada orang yang bisa menjelaskan mengenai tempat yang aneh ini.
Aku duduk di lengkunagn jangkar yang biasanya mengait kepada batu karang. Lalu jangkar raksasa naik perlahan – lahan seperti lift. Semakin ke atas aku semakin menemukan banyak kenaehan. Ada gajah yang tampaknya melangkah di atas jalan yang tak terlihat. Jerapah dengan totol berwarna – warni. Kelinci – kelinci yang bersepeda, anjing yang mengeong, dan kucing yang menggonggong mengejar anjing.
Lalu semakin ke atas tampak segumpalan awan. Dan kulihat ikan terbang terbang meliuk, terbang kesana kemari. Dan pelangi yang dipakai sebagai seluncuran bagi anak – anak monyet. Ugh dunia apa ini? Kepalaku bisa lebih sakit jika aku terus berada disini.
Lalu tampaknya sebentar lagi akan sampai. Cakrawala telah kutembus. Tetapi kupandang langit tetap saja menjulang tinggi. Jika ini gedung maka gedung apa ini? Setinggi apa gedung ini? Tampaknya akan kutanyakan nanti jika aku bertemu seseorang di kapal layar sana.
Tampaknya akan kutnyakan kapal apa ini? Jika aku bertemu seseorang nanti. Karena kulihat hamparan padang rumput yang luas. Hal abnormal apa lagi yang kutemukan. Lalu kutemukan seorang anak kecil berkerudung merah, berambut hijau dengan baju oranye dan rok biru Dia memabwa keranjang (tampaknya anak ini tidak bisa meadu madankan baju) dan mata yang berwarna perak.
“Hai tahukah kamu anak kecil, tempat apa ini?” aku bertanya kepada anak itu. Namun ia menjawab dengan lambaian tangan seolah – olah mengajakku pergi ke sebuah tempat. Dan kudengar nyanyian yang sangat merdu, aku ikut bersenadung. Karena lagu yang dinyanyikan adalah lagu kesukaanku. Over the rainbow.
Somewhere over the rainbow. Way up high..... sambil bersenandung aku mengikuti anak itu pergi. Aku sempat kehilangan punggung anak itu untuk kuikuti. Tetapi tampaknya aku diberi firasat untuk selalu bisa menemukan anak itu. Semakin lama orang yang bersenandung lagu over the rainbow semakin terdengar jelas. Sepertinya anak itu ingin mengajakku menemui seseorang.(dan aku menduga orang yang ingin dipertemukannya denganku adalah orang yang bersenandung lagu itu).
Benar saja. Seorang wanita dengan baju putih gading, bermata biru sedang duduk di batu yang besar dan bersenandung sangat anggun. Lalu kedatanganku dan anak kecil tadi, membuyarkan nyanyiannya. Lalu wanita yang berumur sekitar 25 tahun itu mlihatku dengan manis.
“ma’af aku tersesat, dan aku ingin pulang. Tahukah kau kemana jalan keluar dari tempat ini?” Aku sudah tak berhasrat menanyakan tempat yang aneh dan membuatku pusing ini.
Wanita itu tersenyum. “Kau mau keluar dari tempat ini?” lalu aku mengangguk mantap. “kau hanya perlu memikirkannya untuk tidak berada di tempat ini, itu saja” Seolah – olah memberikanku teka – teki yang harus kujawab wanita itu lalu pergi melangkah bersama anak itu. Didalam keranjang anak itu terdapat banyak mahkota bunga yang berwarna – warni, ditebarkan seenaknya. “Hey tunggu. Aku ingin kejelasan! Bagaimana aku bisa keluar dari tempat ini?. Ini tempat yang aneh bagiku!” heuh aku sangat lelah memikirkan ini.
Wanita dan anak itu menghilang. Ah... mungkin wanita itu menyuruhku mengikutinya dengan mengikuti jejak bunga yang ditaburkannya. Mahkota –mahkota yang tampaknya dari berbagai bunga jenis Orchidaceae kupungut. Sayang sekali bunga semahal ini dibuang begitu saja. Kupungut, lalu tidak kubuang tetapi kumasukan dalam saku piyamaku. Terus – terus lalu terus kupunguti, tidak sadar aku berada dipinggir jurang, menyebrangi sungai, membuka jalan dihutan rimba, berjalan diterik panasnya padang pasir, aku terus berjalan memnguti mahkota orchidaceae tu.
Hingga akhirnya aku sampai di sebah tempat. Pasar. Ada makanan. Aku sudah tidak makan berhari – hari pastinya aku lapar. Kucari tukang daging tampaknya akan sangat sulit bagiku menemukannya, karena banyak orang – orang ang tinggi dan tampak tidak ramah ke di pasar ini. Semua berwajah cemberut. Aku jadi enggan bertanya pada orang – orang ini.
Aku berjalan, menapaki jalan yang sesak penuh orang – orang yang tiinggi badannya dan terlihat dari air mukanya mereka orang yang tinggi hati pula. Mereka tampak menganggapku rendah. Bukan karena tinggik badan tetapi mereka mengganggapku sebagai kasta terendah. Lalu aku menemukan kedai makanan yang tidak seramai ditempat yang lain.
Wangi aroma makanan yang sedang dimasak menggelitik hidugku, membocorkan bendungan air liur. Tebayang makanan yang enak dan nikmat yang bisa memanjakan lidah. Uh wangi daging dengan bumbu merica sangat menyengat dan menusuk lambungku. Perut sudah perih, bak disayat silet dan disirami cuka. Wanginya yang menggoda, menyeretku untuk melihat kedai makanan. Meskipun aku tidak punya tetapi aku tetap saja akan datang. Tak ada uangpun tak masalah, mungkin dengan melihat dan mencium wanginya lebih dekat akan sedikit menghibur perutku yang butuh hiburan.
Tidak, menciumnya saja membuatku semakin tersiksa. Aduh sakit. Sakit yang tak tertahankan. Kulihat ada anak muda sedang makan daging itu dengan lahap. Semakin sakit saja lambungku ini oleh zat HCL yang diproduksi karena dirangsang melihat hal yang seperti itu. Pemuda itu menatapku balik.
Lalu tiba – tiba datang dihadapnku menghalangi pemandanganan di depan kedua mataku, seorang lelaki gempal, dengan alis tebal dan menyatu, seraya menggengam sebilah pisau besar di tangan kanannya. “Mau apa kau kemari?” Tanyanya dengan suara membentak. Aku sedikit mundur darinya. Karena jarakku padanya terlalu dekat, dan aku khawatir sebilah pisau itu akan menancap di kepalaku, atau menebas leherku, dan menjadikan dagingku sepiring steak. Bulu kudukku merinding takut akan sosok pria yang terlihat sangar itu.
“ma’af aku hanya ingin memakan daging, itu saja” lalu aku sedikit menunduk karena takut melihatnya, apalagi dia memainkan pisau ditangannya, itu yang membuatku ngeri. “kau punya uang?” aku menggeleng dengan ketakutan. “hai orang asing, tahukah kau peraturan disini?” aku hanya diam tak menggeleng tak melihat ke arahnya tetapi melihat ke arah tanah. “ Jika kau ingin sesuatu, kau tidak dapat mendapatkannya Cuma – Cuma, harus ada yang kau korbankan” pria itu menekankan intonasinya pada kata Cuma –Cuma. Sebenarnya aku tahu perautarn itu. Peraturan yang universal yang berlaku di tempat manapun dan kapanpun. No pain No gain. Hanya saja aku takut
Tangannya yang besar mendorangku ke belakang, menjauhi tempat kedai makannanya. Tapi, perutku lebih lapar dari yang kukira. Dan karena laparnya itu aku sudah tak tahan dan ingin makanan. Aku kan melakukan apapun untuk makan. Kepalaku mengadah kembali dan memanggil sang pemilik kedai.
Tuan, tolonglah aku, perutku kelaparan sekali! Aku mengahmpirinya dan memasang wajah sememelas mungkin. Berharap membuat hatinya luluh. Namun tetap saja masih dibalas dengan wajahnya yang masam. “Sudah kubilang tak ada uang tak ada makanan!” Aku hampir saja menyerah. Tapi ini demi kelangsungan hidupku. Aku takkan pulang jika perutku kosaong, mungkin esok aku kan mati kelaparan.
“Tuan kumohon...” aku berlutut dihadapannya, demi sebuah senyuman yang kuharap tersungging dimulutnya. Wajahnya tak secemberut tadi. Sudah kubilang tidak ada uang tidak ada barang.” Tuan... kumohon, aku hanya punya sekantung mahkota bunga Orchidaceae di sakuku. Tolonglah tuan.
“Apa kau bilang? Sekantung mahkota bunga Orchidaceae?” sang tuan pemilik kedai itu kaget, ketika aku melihatkan beberapa helai mahkota bunga. “Hahahaha.......” sang pemilik kedai itu tertawa seraya berkacak pinggang. “ tampaknya ini tak bisa dijadikan alat pembayaran. Aku seperti orang yang gila, mengatakan aku hanya bisa menukarkan makanan dengan helaian mahkota bunga.
“Kau ini bodoh sekali.....” dengan wajah yang ceria pemilik kedai itu berkata, dan itu membuatku heran. Pelayan, siapkan ruangan khusus untuk tamu spesial ini, dia membawa sekantong mahkota bunga!” Lalu aku dibawanya ke ruangan spesial di keainya. Semua pelayan berjejer, saling berhadapan di atas karpet merah menuju pintu ruangan spesial yang bertatahkan emas dan berlian. Lalu membungkuk kearahku seolah aku sang raja. Dan benar – benar aku seperti raja ketika aku memasuki ruangan itu.
Mungkin kau bingung orang asing, tetapi mahkota bunga adalah alat pembayaran di negri ini, dan mahkota bunga jenis orchidaceae adalah yang paling mahal.” aku kaget mendengarkan perkataannya. Entah aku yang gila, atau negri ini yang gila? Masak ada alat pembayaran berupa mahkota bunga. Yang kutahu mahkota bunga hanyalah sebagai hiasan saja. Jiak berguguran hanya menjadi sampah yang kan membusuk.
Tapi pertanyaan itu sirna, ketika aku menikmati tiap gigitan makanan yang dihidangkan. Daging ayam panggang yang dimasak dengan bumbu rempah – rempah, daging sapi yang dimasak menjadi steak, buah – buahan dari penjuru dunia, dan beberapa minuman yang menyegarkan tenggorokan. Ah sungguh surga dunia ini ada di ruangan spesial kedai makanan.
Datang penari – penari perut dari negara timur tengah sambil membawa makanan penutup. Lalu semua orang berlari – larian. Seperti dikejar sesuatu. Dan aku yang masih menikmati hidangan masih duduk di bantal ala timur tengah melihat keanehan yang lagi lagi terjadi. Sekerumunan orang bak banteng yang pergi berlari dikejar sesuatu meroobohkan dinding – dinding ruangan VIPku. Aku menjadi tahu mengapa mereka berlari tunggang langgang, setelah kedatangan sekelompok raksasa bermata satu, melahap mereka.
Kontan akupun lari mengikuti mereka, berlari tak tentu arah. Sampai akhirnya aku kelelahan, dan banyak orang menyusulku, atau aku yang terlalu lamban mengejar mereka? Entahlah. Nafasku habis karena melangkah – terus melangkah, hingga akhirnya semua orang sudah berada didepanku, aku berlari sekuat tenaga, tapi tak bisa kukejar mereka, dan aku meraskan getaran yang semakin lama semakin terasa hebatnya getaran tersebut.
Bak terkena gempa bumi, aku melangkah sempoyongan. Dan terjatuh. Hingga akhirnya aku merasa bajuku ada yang menarikku, atu aku tersangkut sesuatu. Ketika kepalaku menoleh ke belakang, ternyata tangan seekor raksasa bermata satu itu telah mencubit bajuku. Dan mulutnya telah siap melahapku. Oh tidak! Aku kan mati di perutnya! Terurai oleh HCL di lambungnya, Dan menjadi kotoran dari raksasa itu.
‘TIIIIDAAAAK!!!!!!!!.......” aku berteriak kertika raksasa itu menelanku. Aku beruasaha memegang gigi – gigi yang sebesar batu di sungai. Di gigi geraham belakangnya aku berhasil memegang gigi geraham bagian belakangnya. Tetapi tanganku tergelincir, dan aku hampir masuk ke dalam kerongkongannya jika aku tak bergelantung di amandelnya. Fiuh... hampir saja. Kerongkonganku tampak seperti jurang yang berbentuk saluran.
Aku terus memegang erat amandelnya itu. Terdengar suara deheman keluar dari pita suaranya. Tepat berasal dari bawah. Oh ya, aku punya ide, jika ku goyang – goyangkan amandelnyaitu pasti dia akan muntah. Tanpa kupikir panjang, lalu aku berdiri diatas pangkal lidahnya, dan menarik amandelnya itu keatas dan kebawah. Lalu yang terjadi adalah goyangan yang terjadi didalam mulut. Lalu getaran yang beasal dari kerongkongan datang, dan getarannya seperti getaran air bah yang kan keluar.
Benar saja. Yang keluar adalah isi perutnya yang belum sempurna ketika dicerna. Lalu aku keluar bersama muntahan itu yang menjijikkan. Dan sang rakasas memuntahkanny ke sungai yang deras. Sungai yang sangat deras, hingga aku tak sempat untuk mengambil posisi berenang. Aku hanya bisa merelakan tubuhku terbawa arus. Hingga kusadari ada air terjun diujung sungai, aku berusaha sekuat tenaga untuk berenang tetapi, apatah daya tubuhku tak bisa melawan arus, tapi aku harus bisa. Ku harus hidup, aku tak mau mati di tempat yang aneh ini.
Tetapi tetap saja aku tak bisa. Aku hanya bisa pasrah. Biarlah aku terbawa arus. Biarlah air membawa jasadku sekehendak mereka, biarlah... ah biarlah. Dan aku terjun ke dasar sungai yang berada di bawah air terjun. Terjun bagaikan melayang ke sebuah tempat yang takkan berujung. Terjun dan semua darahku naik ke atas melawan gravitasi.
Byur!!! Aku di bawah air, melayang, entahlah, aku lelah biaralah aku mengapung tanpa nyawa. Dan ada sesuat yang menarikku ke atas. Sebuah tongkat yang mengaitkanku keatas perairan. Aku tetap memejamkna mataku, yang sebenarnya menunggu akhir hidupku. Bukankah aku memang ingin mengakhiri hidupku sejak awal? Sejak aku memukul kepalaku, dan tak tahunya tempat aneh ini menyiksaku.
Tapi tetap saja hidup. Aku seperti seekor kucing yang meiliki 9 nyawa, yang baru kuketahui hari ini. Dan kubuka mataku kulihat wanita yang kutemui sedang duduk diatras batu. Entahlah apakah harus kusukuri keselamatanku atau tidak, ketika aku bertemu wanita itu lagi, dan juga anak kecil yang tadi memegang keranjang beriosi mahkota bunga yang dijadikan alat pembayaran makananku.
Wanita itu tersenyum, melihatku tersadar. “kenapa kau tersenyum, apa yang lucu dariku? Apakah di negri ini orang yang aru dikejar raksasa dan tercebur ke dalam sungai yang mengalir menuju air terjun adala hal yang luca?” Sudah lah hentikan aku sudah cukup muak, ambilah nyawaku!! Aku tahu kau adalah sebenarnya malaikat maut yang menyamar menjadi perempuan aneh, yang hanya ingin menyiksaku sebelum mautku datang, maka ambilah! Cepat!’ aku marah tetapi lemas menyerah.
Lagi – lagi wanita itu tersenyum lagi. Namun diiringi kata – kata. “sudahkakh kau belajar hari ini?”
Apa maksudmu? Belajar? Belajar bagaimana? Apakah di negri ini belajar adalah ketika kita dikejar- kejar oleh raksasa? Kuharap kau tak memberiku teka – teki lagi! Aku mau jawaban!”
Untuk kesekian kalinya wanita itu tersenyum. Dan memberikan sebuah cermin besar sebesar anak kecil yang membawakannya hingga menutupinya. Lalu terlihat sesosok tubuh yang tertelungkup lemah, menjijikkan, kotor, kusut dengan naju yang compang – camping. Wajahnya begitu kuyu. Baju yang compang camping itu bajuku, tetapi wajahanya bukan wajahku.
“Lihatlah dirimu, itu dirimu, sang wanita itu berbisik ke telingaku seoalh – olah membaca hatiku yang menolak wajah itu. “begitu kuyu, tak berdaya, penuh rasa frustasi, bahkan tak berbeda dengan raksasa yang mengejarmu tadi”.
“Lalu kenapa? Jika aku seperti itu?”
Wanita itu mendelik, bukankah itu yang sebenrnya tidak kau mau?” ya aku tak suka wajah itu, rasa depresi yang sangat terasa ketika aku melihatnya. Dia – wajahku yang seperti mayat hidup, ya aku tak suka dengan keadaan ini, aku ingin berubah dibalik rasa ingin matiku ini.
Tapi bagaimana aku berubah sekarang?” aku berdiri dan bertanya kepada wanita itu, yang lalu menatapku dalam. Seperti yang pernah kubilang di awal pertemuan kita bertemu. “ kau hanya perlu memikirkan tidak ada ditempat ini, kau hanya perlu memikirkan tidak akan lagi berajah seperti itu”.
“Aku......”
“Ssst...” wanita itu menempelkan jari telunjuknya ke arahku. “pejamkan matamu, tarik nafas dan pikirkanlah dengan tenang, sebuah wajah seperti yang kau inginkan.”
Aku menurutinya, sebuah wajah yang ceria, dengan senyuman yang indah, dengan pakaian yang bagus, rapi dengann warna yang cerah. Seperti yang kupikirkan sesosok pemuda tampan bak pangeran kerajaan tampak berseri di cermin itu. Lau kuraba wajahku ini, dan cermin itu juga memantulkan pangeran yang memegang wajahnya. Aku puas atas yang telah kualami hari ini.
Lalu anak kecil itu membalikkan cerminnya dan di cermin itu adalah sebuah pintu menuju jalan pulang.